Sabtu, 05 Maret 2016

MAKALAH HAKIKAT FUNGSI, DAN TUJUAN BERBICARA

BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang
Kehidupan manusia tidak dapat terlepas dari kegiatan berbicara. Bahasa merupakan sarana berkomunikasi untuk manusia. Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi manusia dituntut untuk memiliki kemampuan berbahasa yang baik. Sesorang yang memiliki kemampuan bahasa yang memadai akan lebih mudah menyerap dan menyampaikan informasi baik secara lisan maupun tulisan.
Pembelajaran keterampilan di sekolah tidak hanya menekankan pada teori saja, tetapi siswa dituntuk untuk mampu menggunakan bahasa sebagai fungsinya, yaitu sebagai alat komunikasi. Salah satu aspek berbahasa yang harus dikuasai oleh siswa adalah berbicara. Akan tetapi, masalah yang terjadi di lapangan adalah tidak semua siswa mempunyai kemampuan berbicara yang baik. Oleh sebab itu, pembinaan keterampilan berbicara harus dilakukan sedini mungkin. Siswa yang memiliki kemampuan berbicara yang baik akan mempengaruhi sosialnya dalam hal berinteraksi dengan teman dilingkungannya. Keterampilan berbahasa lisan memudahkan siswa berkomunikasi dan mengungkapkan ide kepada orang lain.

B.     Rumusan Masalah 
1.      Bagaimana Hakikat Berbicara ?
2.      Bagaimana Fungsi Berbicara ?
3.      Apa Tujuan Berbicara?

C.    Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui hakikat berbicara
2.      Untuk mengetahui fungsi berbicara
3.      Untuk mengetahui tujuan berbicara

D.    Batasan Masalah
Kami membatasi makalah ini mengenai seputar tentang hakikat berbicara, fungsi berbicara, dan tujuan berbicara.



































BAB II
PEMBAHASAN

A.    Hakikat Berbicara
Kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan serta menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Menunjukkan dengan jelas bahwa berbicara berkaitan dengan pengucapan kata-kata yang bertujuan untuk menyampaikan apa yang akan disampaikan baik itu perasaan, ide atau gagasan. Dalam rangka menyampaikan atau menyatakan maksud serta perasaan disusun dan dikembangkan sesuai dengan kebutuhan penyimak agar apa yang disampaikan dapat difahami oleh penyimak
Dalam berbicara memiliki ketepatan berbicara antara lain yaitu :
a.    Ketepatan pengucapan
Seorang pembicara harus membiasakan diri mengucapkan bunyi-bunyi bahasa secara tepat. Pengucapan bunyi bahasa yang kurang tepat dapat mengalihkan perahatian pendengar. Sudah tentu pola ucapan dan artikulasi yang digunakan tidak selalu sama. Setiap orang mempunyai gaya tersendiri dan gaya bahasa yang dipakai berubah-ubah sesuai dengan pokok pembicaraan, perasaan, dan sasaran. Akan tetapi kalau perbedaan atau perubahan itu terlalu mencolok, dan menyimpang, maka keefektifan komunikasi akan terganggu.
Setiap penutur tentu sangat dipengaruhi oleh bahasa ibunya. Misal­nya, pengucapan kanuntuk akhiran -kan yang kurang tepat, memasukkan. Memang kita belum memiliki lafal baku, namun sebaiknya ucapan kita jangan terlalu diwarnai oleh bahasa daerah, sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar. Demikian juga halnya dengan pengucapan tiap suku kata. Tidak jarang kita dengar orang mengucapkan kata-kata yang tidak jelas suku katanya. Pengucapan bunyi-bunyi bahasa yang tidak tepat atau cacat akan menimbulkan kebosanan, kurang menyenangkan, atau kurang menarik sehingga dapat mengalihkan perhatian pendengar, mengganggu komunikasi, atau pemakainya dianggap aneh (Maidar dan Mukti, 1991).
b.     Ketepatan intonasi
Kesesuaian intonasi merupakan daya tarik tersendiri dalam berbicara dan merupakan faktor penentu. Walaupun masalah yang dibicarakan kurang menarik, dengan penempatan intonasi yang sesuai dengan masalahnya menjadi menarik. Sebaliknya jika penyampaiannya datar saja, hampir dapat dipastikan menim­bulkan kejemuan dan keefektifan berbicara berkurang
Demikian juga halnya dalam pemberian intonasi pada kata atau suku kata. Tekanan suara yang biasanya jatuh pada suku kata terakhir atau suku kata kedua dari belakang, kemudian ditempatkan pada suku kata pertama. Misalnya kata peyanggahpemberani,kesempatan, diberi tekanan pada pe-, pem-, ke-, tentu kedengarannya janggal. 
c.    Pilihan kata (diksi)
Pilihan kata (diksi) hendaknya tepat, jelas, dan bervariasi. Jelas maksudnya mudah dimengerti oleh pendengar yang menjadi sasaran. Pendengar akan lebih terangsang dan lebih paham, kalau kata-kata yang digunakan sudah dikenal oleh pendengar. Misalnya, kata-kata populer tentu akan lebih efektif daripada kata-kata yang muluk-muluk dan kata-kata yang berasal dari bahasa asing. Kata-kata yang belum dikenal memang membangkitkan rasa ingin tahu, namun menghambat kelancaran komu­nikasi. Pilihan kata itu tentu harus disesuaikan dengan pokok pembicaraan dan dengan siapa kita berbicara (pendengar).

d.    Kelancaran
Seorang pembicara yang lancar berbicara memudahkan pendengar menangkap isi pembicaraannya. Seringkali kita dengar pembicara berbicara terputus-putus, bahkan antara bagian-bagian yang terputus itu diselipkan bunyi-bunyi tertentu yang sangat mengganggu penangkapan pendengar, misalnya menyelipkan bunyi ee, oo, aa, dan seba­gainya. Sebaliknya, pembicara yang terlalu cepat berbicara juga menyulitkan pendengar menangkap pokok pembicarannya.
Description: Pengertian, tujuan dan tes kemampuan berbicara
Berbicara adalah kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi  atau mengucapkan kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan, menyampaikan pikiran, gagasan, dan perasaan. Pendengar menerima informasi melalui rangkaian nada, tekanana, dan penempatan. Jika komunikasi berlangsung tatap muka, ditambah lagi dengan gerak tangan dan air muka (mimik) pembicara.
Sebagai batasan dari batasan ini  dapat kita katakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar (audible) dan yang kelihatan (visible) yang memanfaatkan sejumlah otot dan jaringan otot tubuh manusia demi maksud dan tujuan gagasan-gagasan atau ide-ide yang dikombinasikan. Dengan demikian, ada dua hal penting dalam proses terjadinya bicara, yaitu proses sensoris dan motoris. Aspek sensoris meliputi: pendengaran, penglihatan, dan rasa raba yang berfungsi untuk memahami apa yang didengar, dilihat dan dirasa. Aspek motorik, yaitu: mengatur laring, alat-alat untuk artikulasi, dan laring yang bertanggung  jawab untuk pengeluaran suara.  Jadi, untuk proses bicara diperlukan koordinasi sistem saraf motoris dan sensoris.
Adapun pengertian berbicara secara lebih luas lagi yaitu suatu bentuk prilaku manusia yang memanfaatkan fakto-faktor fisik, psikologis, neurologis, semantik, dan linguistik. Dari pengertian diatas,  jelas sekali bahwa dalam berbicara seseorang memanfaatkan empat faktor, yaitu;
1.      Faktor  fisik, yaitu alat ucap untuk menghasilkan bunyi bahasa. dengan demikian, faktor fisik yang digunakan untuk berbicara yaitu mulut.
2.      Faktor psikologis, yaitu memberikan andil yang cukup besar terhadap kelancaran berbicara.
3.      Faktor neuroogis, yaitu jaringan syaraf yang menghubungkan otak kecil dengan mulut, telinga, dan organ tubuh lainnya yang ikut dalam aktifitas berbicara.
4.       Faktor semantik, yaitu yang berhubungan dengan makna.
5.       Faktor linguistik yaitu yang berkaitan dengan struktur bahasa yang selalu berperan dalam kegiatan berbicara.
Oleh karena itulah berbicara merupakan suatu alat yang sangat penting bagi kontrol sosial, karena berbicar tidak hanya sekedar pengucapan bunyi atau kata-kata. Melainkan suatu alat untuk mengomunkasikan gagasan-gagasan yang disusun serta dikembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
B.     Fungsi Berbicara
Secara praktis pragmatis keterampilan berbicara memiliki empat fungsi utama dalam kognitif, aspek afektif, aspek keterampilan berbicara, dan aspek keterampilan mengelola pembelajaran berbicara. Konsekuensinya dalam kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara siswa dibina dan diarahkan agar memahami dan mendalami teori, konsep, dan generalisasi berbicara serta metodologi pengajaran berbicara. Logisnya, pengetahuan siswa perihal teori, konsep, dan generalisasi berbicara serta metodologi pengajaran berbicara meningkat sejalan dengan tahap pembelajarannya. Pengalaman berbicara dan pengalaman mengajarkan keterampilan berbicara merupakan fungsi aspek kognitif.
Di sisi lain kemampuan keterampilan berbicara juga berpengaruh terhadap sikap siswa. Mungkin saja selama ini sikap mereka terhadap keterampilan berbicara belum bersifat positif, namun melalui kegiatan pembelajaran keterampilan berbicara sikap itu diubah menjadi sikap positif. Siswa menjadi lebih memahami, menghayati, menyenangi, dan mencintai keterampilan berbicara, serta lebih gemar melaksanakan kegiatan dan pengajaran berbicara. 
Fungsi umumm berbicara adalah sebagai alat komunikasi sosial. Berbicara erat kaitannya dengan kehidupan manusia, dan setiap manusia menjadi anggota masyarakat. Aktivitas sebagai anggota masyarakat sangat tergantung pada penggunaan tutur kata masyarakat setempat. Gagasan, ide, pemikiran, harapan dan keinginan disampaikan dengan berbicara. Aksi manusia dalam kelompok masyarakat tergantung pada tutur kata yang digunakan, karena keselamatan orang itu ada pada pembicaraannya.

Adapun menurut Halliday dan Brown fungsi berbicara dapat dikelompokan menjadi tujuh, yaitu:  
1.      Fungsi instrumental, yaitu bertindak untuk menggerakan serta memanipulasikan lingkungan, menyebabkan peristiwa-peristiwa tertentu terjadi. Dengan fungsi ini, bahasa yang diucapkan menimbulkan suatu kondisi khusus. Sebagai contoh fungsi ini adalah, ketika seorang atasan memberikan nasiha-nasihat, perintah-perintah, serta larangan-larangan kepada bawahannya.
2.      Fungsi regulasi atau pengaturan, yaitu pengawasan kepada peristiwa-peristiwa. melalui ini, berbicara difungsikan untuk persetujuan, celaan, pengawasan kelakuan. Sebagai contoh, adalah keputusan seorang pengusaha yang memecat karyawannya, karena sering terlambat datang.
3.      Fungsi representasional merupakan penggunaan bahasa untuk membuat pernyataan-pernyataan, menyampaikan fakta dan pengetahuan, menjelaskan, melaporkan, dan menggambarkan. Sebagai contoh, seorang Penyiar yang menyampaikan berita gunung meletus. Seorang Guru yang mendeskripsikan tentang suatu benda kepada murid-muridnya.
4.      Fungsi intraksional merupakan penggunaan bahasa untuk menjamin pemeliharaan sosial. Fungsi ini untuk menjaga agar saluran-saluran komunikasi tetap terbuka. Sebagai contoh, seorang Guru yang memberikan permainan, agar Siswanya tidak merasa bosan dengan pelajaran yang disampaikan.
5.      Fungsi personal merupakan penggunaan bahasa untuk menyatakan  perasaan, emosi, kepribadian, dan reaksi-reaksi yang terkandung dalam benaknya. Sebagai contoh, Orang tua yang memarhi Anaknya karena tidak melaksanakan pekerjaan Rumah dengan baik.
6.      Fungsi heuristik merupakan penggunaan bahasa untuk mendapatkan pengetahuan, mempelajari lingkungan. Fungsi ini sering disampaikan dalam pertanyaan-pertanyaan. Sebagai contoh, seorang mahasiswa yang bertanya kepada dosennya tenteang hal yang belum dipahami ketika dosen sedang menerangkan.
7.      Fungsi nimajinatif merupakan penggunaan bahasa untuk menciptakan sistem-sistem atu gagasan-gagasan imajiner. Sebagai contoh, seorang Ibu yang mendongeng kepada Anaknya, tentang cerita Sangkuriang atau  Malinkundang.

C.    Tujuan Berbicara
Tujuan utama dari berbicara adalah untuk berkomunikasi agar dapat menyampaikan pikiran secara efektif, supaya si pendengar dapat memahami segala sesuatu yang ingin  disampaikan oleh si pembicara. Menurt Ochs and Winker (dalam Tarigan, 2008:17), pada dasarnya, berbicara mencakup tiga tujuan umum, yaitu: memberitahukan dan melaporkan (to inform);  menjamu dan menghibur (to entertaint); membujuk, mengajak, mendesak, dan meyakinkan (to persuade). Gabungan atau campuran dari maksud-maksud itupun mungkin saja terjadi, misalnya suatu pembicaraan mungkin saja merupakan gabungan dari melaporkan dan menjamu begitu pula mungkin sekaligus menghibur dan meyakinkan. Adapun pengertian lebih rinci dari tujuan yang telah disebutkan di atas yaitu:
1.       Memberitahukan dan melaporkan ( to inform)
Bebicara dengan tujuan ini, biasanya bersuasana serius, tertib, dan hening. Soalnya, pesan yang dibicarakan merupakan pusat perhatian, baik pembicara maupun pendengar. Dalam hal ini, pembicara harus berusaha  berbicara dengan jelas, sistematis, dan tepat mengenai isi pembicaraan yang akan disampaikan, agar apa yang akan di sampaikan  terjaga keakurtannya. Pendengarpun biasanya berusaha menangkap isi dari informasi yang di sampaikan dengan penuh kesungguhan. Contoh nya yaitu: penjelasan seorang Polisi mengenai konflik yang sedang terjadi ke khalayak umum, penjelasan seorang Presiden mengenai kenaikan BBM.
2.       Menjamu dan Menghibur (to entertaint)
Berbicara dengan tujuan menghibur biasanya bersuasana santai,  rileks, dan kocak. Soal pesan yang di sampaikan bukanlah tujuan utama. Contoh berbicara menghibur : Lawaka., Srimulat Cerita Kabayan, dan Cerita Abu nawas.  
3.      Membujuk, Mengajak,dan  Mendesak, (to persuade)
Berbicara dengan tujuan ini, biasanya bersuasana serius, kadang-kadang terasa kaku, karena pembicara mempunyai kedudukan yang lebih tinggi dari pendengarnya. Si pembicara biasanya memberikan masukan atau motivasi kepada pendengar dengan dilandasi kasih sayang, kebutuhan, harapan, serta memberikan inspirasi agar pendengar mampu melakukan segala apa yang disampaikan pembicara. Contohnya yaitu: Nasehat seorang Pemimmpin perusahaan kepada Karyawan-karyawannya, agar mereka mampu meningkatkan pendapatan Perusahaan lebih tinggi. Serta nasehat seorang Guru kepada Siswanya yang malas mengerjakan tugas.
4.      Meyakinkan
Berbicara meyakinkan bertujuan meyakinkan pendengarnya. Pembicara berusaha mengubah sikap pendengarnya dari tidak setuju menjadi setuju, dari tidak simpati menjadi simpati, dan sebagainya. Dalam pembicaraan itu, pembicara harus melandaskan pembicaraannya kepada argumentasi yang nalar, logis, masuk akal, dan dapat dipertanggung jawabkan dari segala segi. Contohnya: pidato seorang caleg kepada masyarakat tertentu, agar masyarakat dapat memilihnya sebagai anggota legislatif.
Didalam tujun ada pula strategi dalam berbicara, strategi komunikasi atau communication strategies. Ada beberapa hal dalam strategi komunikasi yaitu : 
Ø  Menggunakan kata-kata yang banyak / tidak langsung
Ø  Pembentukan kata baru (pilihan kata yang baru)
Ø  Mengubah kata-kata  baru agar lebih dikenal (penyerapan kata asing) contoh : karpet.
Ø  Menggunakan kata yang saling berhubungan atau kata-kata alternative (menyederhanakan kata-kata yang masih khusus) contoh : meja kerja
Ø  Menggunakan kata-kata yang umum yang sudah dikenal.
Ø   Menggunakan gerak tubuh atau mimic untuk meyakinkan maksud yang kita inginkan.

Terdapat beberapa aktivitas yang mempermudahkan seseorang untuk belajar keterampilan berbicara, seperti mengubah topic, merespon, atau  menolak, beberapa hal yang perlu diyakini :
1.      Attention (memperhatikan)
2.      Noticing (mengenali)
3.      Understanding (memahami)
Strategi pembelajaran berbicara merujuk pada prinsip stimulus respon, yakni memberi dan menerima informasi, rancangan program pengajaran untuk mengembangkan ketrampilan berbicara yaitu :
Ø  Aktivitas mengembangkan keterampilan bicara secara umum dan khusus untuk membentuk model diksi dalam ucapan dan mengurangi penggunakan bahasa nonstandard,
Ø  Aktivitas mengatasi masalah yang meminta perhatian khusus.








BAB II
PENUTUP  
A.    KESIMPULAN
1.      Dalam berbicara memiliki ketepatan berbicara antara lain yaitu : ketepatan pengucapan, ketepatan intonasi, pilihan kata (diksi), dan kelancaran.
2.      Fungsi berbicara dapat dikelompokan menjadi tujuh, yaitu:  fungsi instrumental, fungsi regulasi atau pengaturan, Fungsi representasional, fungsi intraksional, fungsi personal, fungsi heuristik, dan fungsi nimajinatif
3.      Tujuan berbicar yaitu: Memberitahukan dan melaporkan ( to inform), Menjamu dan Menghibur (to entertaint), dan Membujuk, Mengajak,dan  Mendesak, (to persuade)

B.     SARAN
1.      Bagi guru seharusnya keterampilan untuk berbicara yang baik ditekankan sejak dini dan dilatih dengan benar agar peserta didik mudah mengeluarkan ide atau gagasannya pada proses belajar di jenjang pendidikan selanjutnya.
2.      Bagi orang tua seharusnya tidak berpangku tangan dari guru di sekolah saja dalam hal melatih kemampuan berbicara tetapi juga dapat ikut andil dalam memberikan kemampuan anak berbicara dengan baik dan lancar.


MAKALAH VALIDITAS DAN REALIBILITAS

 BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
Keberhasilan pendidikan sangat ditentukan oleh proses pembelajaran. Untuk mengukur keberhasilan proses pembelajaran diperlukan evaluasi dan proses analisis dari evaluasi.  Manfaat dari analisis evaluasi untuk mengetahui kekuatan dan kelemahan pembelajaran dalam rangka meningkatkan proses pembelajaran. Karena itu  begitu pentingnya guru mengadakan analisis butir soal (distraktor, tingkat kesukaran, daya pembeda, dan kualitas soal), validasi dan reliabilitas instrument.
Hasil dari proses penilaian perlu dilakukan analisis, untuk melihat validitas dan efektivitas instrument, serta untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan proses pembelajaran. Ada tiga sasaran pokok ketika guru melakukan analisis terhadap hasil belajar, yaitu terhadap guru, siswa dan prosedur pembelajaran. Fungsi analisis untuk guru terutama untuk mendiagnosis keberhasilan pembelajaran dan sebagai bahan untuk merevisi dan mengembangkan pembelajaran dan tes. Bagi siswa, analisis diharapkan berfungsi mengetahui keberhasilan belajar, mendiagnosa mengoreksi kesalahan belajar, serta Memotivasi siswa belajar lebih baik. 
Perkembangan konsep penilaian pendidikan yang ada pada saat ini menunjukkan arah yang lebih luas. Penilaian program pendidikan menyangkut penilaian terhadap tujuan pendidikan, isi program, strategi pelaksanaan program dan sarana pendidikan. Penilaian proses belajar mengajar menyangkut penilaian terhadap kegiatan guru, kegiatan siswa, pola interaksi guru siswa dan keterlaksanaan program belajar mengajar. Sedangkan penilaian hasil belajar menyangkut hasil belajar jangka pendek dan hasil belajar jangka panjang.
Dengan demikian, inti penilaian adalah proses memberikan atau menentukan nilai kepada objek tertentu berdasarkan suatu kriteria tertentu. Proses pemberian nilai tersebut berlangsung, baik dalam bentuk validitas maupun reliabilitas. Keberhasilan mengungkapkan hasil dan proses belajar siswa sebagaimana adanya (objektivitas hasil penilaian) sangat tergantung pada kualitas alat penilaiannya di samping pada cara pelaksanaannya.

Pada makalah ini akan dibahas mengenai analisis soal berupa validitas dan reliabilitas tes yang berguna sebagai pedoman bagi pendidikan dalam melakukan analisis soal terutama untuk soal objektif.

B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana realibilitas tes?
2.      Bagaimana validitas tes?

C.    Tujuan Pembahasan Masalah
1.      Untuk mengetahui reliabilitas tes.
2.      Untuk mengetahui validitas tes.

D.    Batasan Masalah
Dalam makalah ini hanya membahas tentang validitas tes dan reliabilitas tes.












BAB III
PEMBAHASAN

A.    Realibilitas tes
Realibilitas berarti dapat dipercaya. Realibilitas berarti dapat dipercayanya sesuatu. Tes yang reliable berarti bahwa tes itu dapat dipercaya. Suatu tes dikatakan dapat dipercaya apabila hasil yang dicapai oleh tes itu konstan atau tetap. Tidak menunjukkan perubahan-perubahan yang berarti.
Unreliability suatu tes dapat disebabkan oleh dua macam faktor yaitu:
1.      Situasi pada waktu testing berlagsung
Hal ini mencakup keadaan jasmaniah dan rohaniah dari anak. Misalnya:
Anak tidak dalam kondisi tubuh yang baik atau kurang sehat
Menghadapi tes dengan perasaan takut
Mengerjakan tes dengan gugup, atau terburu-buru
Tidak mengerjakan tes dengan sepenuh hati
Dan lain sebagainya.
2.      Keadaan tes itu sendiri
Hal ini berhubungan dengan kualitas dari soal-soal tes tersebut.
Mengenai kualitas dari tes-item ini misalnya:
Pertanyaan-pertanyaan yang bersifat ambigous, yaitu pertanyaan-pertanyaan yang memungkinkan banyak tafsiran dan banyak jawaban.
Pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak dapat dijawab, sebab kurang memberikan keterangan-keterangan yang lengkap.
Untuk mengatasi hal ini, pertama, seseorang yang akan menyusun tes harus benar-benar menguasai bahan yang akan diteskan dengan mendalam, dengan sempurna.
Kedua, seseorang yang menyusun tes harus menguasai teknik-teknik bagaimana cara membuat soal-soal atau pertanyaan-pertanyaan.
Realibilitas berhubungan dengan kepercayaan. Suatu tes dapat dikatakan mempunyai taraf kepercayaan yang tinggi  jika tes tersebut dapat memberikan hasil yang tetap. Maka pengertian reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetan hasil tes. Atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti.
Jika validitas terkait dengan ketetapan obyek yang tidak lain adalah tidak menyimpangnya data dari kenyataan, artinya bahwa data tersebut benar, maka konsep reliabilitas terkait dengan pemotretan berkali-kali. Instrumen yang baik adalah instrumen yang dapat dengan ajeg memberikan data yang sesuai dengan kenyataan. Untuk dapat memperoleh gambaran yang ajeg memang sulit karena unsure kejiwaan manusia itu sendiri tidak ajeg. Misalnya kemampuan kecakapan, sikap, dan sebagainya berubah-ubah dari waktu ke waktu.
Beberapa hal yang sedikit banyak mempengaruhi hasil tes banyak sekali. Namun secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi 3 hal:
1.      Hal yang berhubungan dengan tes itu sendiri, yaitu panjang tes dan kualitas butir-butir soalnya. Semakin panjang tes, maka reliabilitas dan validitasnya semakin tinggi.
2.      Hal yang berhubungan dengan tercoba (testee)
Tes yang dicobakan kepada bukan kelompok terpilih, akan menunjukkan reliabilitas yang lebih besar daripada yang dicobakan pada kelompok tertentu yang diambil secara dipilih.
3.      Hal yang berhubungan dengan penyelenggaraan tes
Faktor penyelenggaraan tes yang bersifat administratif, sangat menentukan hasil tes antara lain: petunjuk yang diberikan sebelum tes dimulai, pengawasan yang tertib dan suasana lingkungan dan tempat tes.

B.     Validitas tes

Validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya (Azwar, 1986). Suatu skala atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas yang tinggi apabila instrumen tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud dilakukannya pengukuran tersebut. Sedangkan tes yang memiliki validitas rendah akan menghasilkan data yang tidak relevan dengan tujuan pengukuran.
Validitas tes biasa juga disebut sebagai kesahihan suatu tes adalah mengacu pada kemampuan suatu tes untuk mengukur karakteristik atau dimensi yang dimaksudkan untuk diukur. Sedangkan reliabilitas atau biasa juga disebut sebagai kehandalan suatu tes mengacu pada derajat suatu tes yang mampu mengukur berbagai atribut secara konsisten (Brennan, 2006).[1]
Valid berarti cocok atau sesuai. Suatu tes dikatakan valid, apabila tes tersebut benar-benar manyasar keapada apa yang dituju. Tes tersebut benar-benar dapat memberikan keterangan atau gambaran tentang apa yang diinginkan. Jika tes itu bahasa, maka tes tersebut harus diberikan gambaran tentang kemampuan dan kacakapan anak dalam hal bahasa, dan bukan manunjukkan gambaran kecakapan anak dalam hal ekonomi, ilmu bumi dan sebagainya. Guna menjelaskan pengertian valid ini, dapat kita ambil contoh sebagai berikut:
Jika kita ingin mengetahui berat dari suatu benda, maka kita pergunakan alat pengukuran timbangan. Jika ingin mengetahui panjang sesuatu, maka kita pergunakan alat pengukur meteran. Dan jika kita ingin mengetahui suhu sesuatu, kita pergunakan alat pengukur thermometer.
Sifat valid diperlihatkan oleh tingginya validitas hasil ukur suatu tes. Suatu alat ukur yang tidak valid akan memberikan informasi yang keliru mengenai keadaan subjek atau individu yang dikenai tes itu. Apabila informasi yang keliru itu dengan sadar atau tidak dengan sadar digunakan sebagai dasar pertimbangan dalam pengambilan suatu keputusan, maka keputusan itu tentu bukan merupakan suatu keputusan yang tepat.
Pengertian validitas juga sangat erat berkaitan dengan tujuan pengukuran. Oleh karena itu, tidak ada validitas yang berlaku umum untuk semua tujuan pengukuran. Suatu alat ukur biasanya hanya merupakan ukuran yang valid untuk satu tujuan yang spesifik. Dengan demikian, anggapan valid seperti dinyatakan dalam "alat ukur ini valid" adalah kurang lengkap. Pernyataan valid tersebut harus diikuti oleh keterangan yang menunjuk kepada tujuan (yaitu valid untuk mengukur apa), serta valid bagi kelompok subjek yang mana? Istilah validitas ternyata memiliki keragaman kategori. Menurut Ebel (dalam Nazir) membagi validitas menjadi:
1.      Concurrent Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan kinerja.
2.      Construct Validity adalah validitas yang berkenaan dengan kualitas aspek psikologis apa yang diukur oleh suatu pengukuran serta terdapat evaluasi bahwa suatu konstruk tertentu dapat dapat menyebabkan kinerja yang baik dalam pengukuran.
3.      Face Validity adalah validitas yang berhubungan apa yang nampak dalam mengukur sesuatu dan bukan terhadap apa yang seharusnya hendak diukur.
4.      Factorial Validity dari sebuah alat ukur adalah korelasi antara alat ukur dengan faktor-faktor yang yang bersamaan dalam suatu kelompok atau ukuran-ukuran perilaku lainnya, dimana validitas ini diperoleh dengan menggunakan teknik analisis faktor.
5.      Empirical Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor dengan suatu kriteria. Kriteria tersebut adalah ukuran yang bebas dan langsung dengan apa yang ingin diramalkan oleh pengukuran.
6.      Intrinsic Validity adalah validitas yang berkenaan dengan penggunaan teknik uji coba untuk memperoleh bukti kuantitatif dan objektif untuk mendukung bahwa suatu alat ukur benar-benar mengukur apa yang seharusnya diukur.
7.      Predictive Validity adalah validitas yang berkenaan dengan hubungan antara skor suatu alat ukur dengan kinerja seseorang di masa mendatang.
8.      Content Validity adalah validitas yang berkenaan dengan baik buruknya sampling dari suatu populasi.
9.      Curricular Validity adalah validitas yang ditentukan dengan cara menilik isi dari pengukuran dan menilai seberapa jauh pengukuran tersebut merupakan alat ukur yang benar-benar mengukur aspek-aspek sesuai dengan tujuan instruksional.
Sementara itu, Kerlinger membagi validitas menjadi tiga yaitu content validity (validitas isi), construct validity (validitas konstruk), dan criterion-related validity (validitas berdasar kriteria). Semua jenis kesahihan harus diperhatikan untuk semua jenis tes, hanya penekanan yang berbeda. Tes psikologi menekankan pada konstruksi tes, tes pencapaian belajar menekankan pada kesahihan isi, sedangkan tes seleksi menekankan pada kesahihan kriteria, terutama pada kesahihan prediktif.
1.      Validitas isi merupakan validitas yang diperhitumgkan melalui pengujian terhadap isi alat ukur dengan analisis rasional. Pertanyaan yang dicari jawabannya dalam validasi ini adalah sejauhmana item-item dalam suatu alat ukur mencakup keseluruhan kawasan isi objek yang hendak diukur oleh alat ukur yang bersangkutan? atau berhubungan dengan representasi dari keseluruhan kawasan. Walaupun isi atau kandungannya komprehensif tetapi bila suatu alat ukur mengikutsertakan pula item-item yang tidak relevan dan berkaitan dengan hal-hal di luar tujuan ukurnya, maka validitas alat ukur tersebut tidak dapat dikatakan memenuhi ciri validitas yang sesungguhnya. Validitas isi ini terbagi lagi menjadi dua tipe, yaitu:
a.       Validitas muka  (Face Validity)
Tipe validitas yang paling rendah signifikasinya karena hanya didasarkan pada penilaian selintas mengenai isi alat ukur. Apabila isi alat ukur telah tampak sesuai dengan apa yang ingin diukur maka dapat dikatakan validitas muka telah terpenuhi. Dengan alasan kepraktisan, banyak alat ukur yang pemakaiannya terbatas hanya mengandalkan validitas muka. Alat ukur atau instrumen psikologi pada umumnya tidak dapat menggantungkan kualitasnya hanya pada validitas muka. Pada alat ukur psikologis yang fungsi pengukurannya memiliki sifat menentukan, seperti alat ukur untuk seleksi karyawan atau alat ukur pengungkap kepribadian (asesment), dituntut untuk dapat membuktikan validitasnya yang kuat.


b.      Validitas Logis (Logical Validity)
Disebut juga sebagai validitas sampling (sampling validity). Validitas tipe ini menunjuk pada sejauhmana isi alat ukur merupakan representasi dari aspek yang hendak diukur. Untuk memperoleh validitas logis yang tinggi suatu alat ukur harus dirancang sedemikian rupa sehingga benar-benar berisi hanya item yang relevan dan perlu menjadi bagian alat ukur secara keseluruhan. Suatu objek ukur yang hendak diungkap oleh alat ukur hendaknya harus dibatasi lebih dahulu kawasan perilakunya secara seksama dan konkrit. Batasan perilaku yang kurang jelas akan menyebabkan terikatnya item-item yang tidak relevan dan tertinggalnya bagian penting dari objek ukur yang seharusnya masuk sebagai bagian dari alat ukur yang bersangkuatan. Validitas logis memang sangat penting peranannya dalam penyusunan tes prestasi dan penyusunan skala, yaitu dengan memanfaatkan blue-print atau tabel spesifikasi.
c.       Validitas Faktor
Penilaian hasil belajar yang diukur oleh faktor, factor ini dapat diketahui dengan menghitung homogenitas skor seriap hari factor dengan total skor, dan dari faktor skor  yang satu dengan yang lain.
d.      Validitas Isi
Digunakan dalam penilaian hasil belajar tujuan utamanya adalah untuk mengetahui sejauh mana peserta didik menguasai materi pelajaran yang telah disampaikan,dan perubahan-perubahan psikologis yang timbulpada diri peserta didik setelah mengalami proses pembelajaran tertentu.Validitas isi ini juga sering disebut dengan validitas kulikuler dan validitas perumusan, karna sering terjadi materi tes tidak mencakup keseluruhan aspek yang akan diukur, baik aspek kognitif,baik aspek efektif, maupun psikomotorik,tetapi hanya pengetahuan yang bersifat fakta-fakta pelajaran tertentu.
e.       Validitas Empiris
Validitas ini menggunakan teknik statistik, disebabkan mencari skor tesdengan suatu kriteria yang merupakan suatu tolak ukur diluar tes yang bersangkutan,ada 3 macam validitas empiris yaitu:
a.       Validitas prediktif (predictif validity)
b.      Validitas kongkuren (concurrent validity)
c.       Validitas sejenis (congruent validity)
Pengukuran validitas sebenarnya dilakukan untuk mengetahui seberapa besar (dalam arti kuantitatif) suatu aspek psikologis terdapat dalam diri seseorang, yang dinyatakan oleh skor pada instrumen pengukur yang bersangkutan.
Macam-macam validitas, adalah sebagai berikut:                                   
1.      Validitas logis
Istilah “validitas logis” mengandung kata “logis” berasal dari kata “logika”, yang berarti penalaran. Validitas logis untuk sebuah instrumen evaluasi menunjuk pada kondisi bagi sebuah intrumen yang memenuhi persyaratan valid berdasarkan hasil penalaran. Kondisi valid tersebut dipandang terpenuhi karena instrumen yang bersangkutan sudah dirangang secara baik, mengikuti teori dan ketentuan yang ada.
Ada dua macam validitas logis yang dapat dicapai oleh sebuah instrumen, yaitu: validitas isi dan validitas konstrak. Validitas isi bagi sebuah instrumen menunjukkan suatu kondisi sebuah instrumen yang disusun berdasarkan isi materi pelajaran yang dievaluasi. Validitas konstrak sebuah instrumen menunjukkan suatu kondisi sebuah instrumen yang disusun berdasarkan konstrak aspek-aspek kejiwaan yang seharusnya dievaluasi.
2.      Validitas empiris
Istilah “validitas empiris” memuat kata “empiris” yang artinya “pengalaman”. Sebuah instrumen dapat dikatakan memiliki validitas empiris apabila sudah diuji dari pengalaman. Validitas empiris tidak dapat diperoleh hanya dengan menyusun instrumen berdasarkan ketentuan seperti halnya validitas logis, tetapi harus dibuktikan melalui pengalaman.
Ada dua macam validitas empiris, yakni ada dua cara yang dapat dilakukan untuk menguji bahwa sebuah instrumen memang valid. Pengujian tersebut dilakukan dengan membandingkan kondisi instrumen yang bersangkutan dengan kriterium atau sebuah ukuran.  Kriterium yang digunakan sebagai pembanding kondisi instrumen dimaksud ada dua, yaitu: yang sudah tersedia dan yang belum ada tetapi akan terjadi di waktu yang akan datang. Bagi instrumen yang kondisinya sesuai dengan kriterium yang sudah tersedia, yang sudah ada disebut validitas “ada sekarang”, yang dalam istilah bahasa Inggris disebut memiliki concurrent validity. Selanjutnya instrumen yang kondisinya sesuai dengan kriterium yang diramalkan akan terjadi, disebut memiliki validitas ramalan atau validitas prediksi, yang dalam istilah bahasa Inggris disebut memiliki predictive validity.






















BAB III
PENUTUP

A.    Kesimpulan
1.      Reliabilitas tes, berhubungan dengan masalah ketetan hasil tes. Atau seandainya hasilnya berubah-ubah, perubahan yang terjadi dapat dikatakan tidak berarti. Reliabilitas atau biasa juga disebut sebagai kehandalan suatu tes mengacu pada derajat suatu tes yang mampu mengukur berbagai atribut secara konsisten
2.      Validitas tes biasa juga disebut sebagai kesahihan suatu tes adalah mengacu pada kemampuan suatu tes untuk mengukur karakteristik atau dimensi yang dimaksudkan untuk diukur.

B.     Saran
1.      Bagi pembaca diharapkan dapat memberikan kritik dan saran yang membangun demi sempurnanya makalah ini dan penulisan makalah di kesempatan-kesempatan berikutnya, dan semoga makalah ini dapat memberikan beberapa informasi yang bermanfaat bagi Anda semua.
2.      Bagi pembaca hendaknya bisa memahami dan menghayati tentang latihan analisis butir (validitas tes dan reliabilitas tes).





Selasa, 02 Februari 2016

INGAT ALLAH

Ya allah dihari ini aku berterimakasih bahwa aku masih ada dalam lindungan-Mu, dan masih dalam keadaan yang bisa untuk ku bertahan lagi, kuatkan aku dalam menghadapi semua apapun cobaan yang telah diberikan,

Pukul  (08.12)  Senin 01 februari 2016
Pagi hari seseorang mbak mengantarkan aku kesebuah tempat yang aku sangat membutuhkan demi kelangsungan pembelajaranku,,,, saat itu aku mencoba menunggu demi untuk mendapatkan panggilan yang semestinya menjadi giliranku, dan ketika aku telah menggu lama antrianpun menuju panggilan nomor yang aku pegang, dan saat itu aku telah dipanggil, aku menjelaskan bagaimana dan apa tujuan ku, setelah dapat penjalasan dan sama menjelaskan akhirnya ternyata itu tidak bisa melanjutkan untuk tujuanku tadi, ,,, pada kelanjutannya aku menelfon saudara untuk mengantarkan ketempat tukang Ojek untuk mengantarkan akau ketempat lainnya yang memiliki kelengkapan untuk keperluan tujuanku,, akhirnya berhasil dengan usaha ku hari itu,,


Pukul (14.15) Selasa 2 Februari 2016
Pada Siang ini aku terkena musibah yang luar biasa untukku, dan itu yang membuat aku kuat untuk mengahadapi semua ini dengan harus selalu mengingat Allah SWT,
tak bisa berkata dan berkutik dengan keadaan yang hanya bertengkurap menghadapi keadaannya, saat itu pulang dari melihat indahnya pantai, dalam perjalanan berpapasan dengan seorang ibu-ibu sedang membawa barang bawaan untuk keperluan rumahnya, dan dalam keadaan hujan gerimis dan hujan mengundang untuk datang dengan deras saat itu pula tak tau kenapa dan tak bisa memanggil siapapun yang ada disana temenku pun ikut dalam terpelantingnya motor yang tak terkendali lagi, pada akhirnya terjadilah luka-luka, dan itu kejadian yang sangat membuatku semakin kuat, semakin berhati-hati untuk mengendarai kendaraan yang sedang dilaju dalam keadaan gerimis/hujan,
dalam perjalanan selalu terbayang akan hadirnya bayangan dalam kejadian yang baru saja menimpa, saat itu langsung berhenti semua di POM untuk melihat keadaan yang bagai mana bisa terjadi luka-luka,dan perkataan ku menahan rasa sakitnya perih menahan luka yang kurasakan yang kualami, dan kendaraannya ada sedikit lecet, dan temenku, tanggannya luka,, sedangkan akau harus menahan luka demi keadaan yang sedang berjalan yaitu menunggu rintik hujan yang reda,,,

Semoga hanya ini yang terakhir kalinya untuk luka yang aku derita,,,
Aku berterimakasih Kepada ALLAH yang telah memberiku  kesempatan untuk bisa berjalan dengan keadaan seperti yang sedang aku alami, dengan begitu aku berarti harus selalu ingat akan kuasa-NYA, selalu ingat akan Nikmat yang telah diberikannya, semoga ini menjadi pelajaran yang harus aku banyak pelajari dengan keadaan harus berhati-hati,,,,
Ingat Allah Dalam  Setiap Hembusan Nafas,,,,,

JAGA, BANTU, DAN LINDUNGILAH AKU YA ALLAH,,,,,, Amiin