Jumat, 03 Juni 2016

MAKALAH PEMETAAN TEMA


A.  Pengertian Pemetaan Tema
Pemetaan tema adalah suatu kegiatan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Pembelajaran tematik merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan materi pengajaran dan pengalaman belajar melalui keterpaduan tema.
Tema menjadi pengikat keterkaitan antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. Pada model pembelajaran ini guru menyajikan pembelajaran dengan tema dan subtema yang disepakati dan dihubungkan dengan antar mata pelajaran sehingga siswa memperoleh pandangan dan hubungan yang utuh tentang kegiatan dari mata pelajaran yang berbeda-beda (Sukayati, 2004:204). Sebagaimana Subroto (1998) menegaskan bahwa dalam pembelajaran tematik yang juga disebut pembelajaran terpadu model terkait, pembelajaran dimulai dari suatu tema. Tema diramu dari kompetensi dasar dan indikator dari beberapa mata pelajaran yang dijabarkan dalam konsep, ketrampilan, atau kemampuan yang ingin dikembangkan dan didasarkan atas  situasi dan kondisi kelas, guru, madrasah dan lingkungan. Dengan demikian menurut Sukayati (2004) siswa mempunyai motivasi tinggi karena pelajaran melalui tema ini akan memudahkan siswa dalam melihat bagaimana berbagai kegiatan dan gagasan dapat saling terikat tanpa harus melihat batas-batas pemisah beberapa mata pelajaran.

B.  Cara Pemetaan Tema dalam Pembelajaran Tematik Terpadu
Pemetaan tema dapat dilakukan dengan berbagai cara, namun demikian tidak ada cara yang terbaik untuk menentukan tema tapi tergantung dari situasi dan kondisi karena pada dasarnya pembelajaran tematik bergantung pada situasi dan kondisi kelas, sekolah, guru, atau lingkungan sehingga prosedur penentuan tema disesuaikan dengan situasi dan kondisi tempat. Menurut Tim Puskur dari Departemen Pendidikan Nasional (2006) menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara. Cara pertama, guru mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai. Cara kedua, guru menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerja sama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
Perbedaan antara cara pertama dengan cara yang kedua terletak pada penentuan tema. Cara yang pertama penentuan tema dilakukan setelah guru melakukan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator. Tema ditentukan setelah melihat keterhubungan antara kompetensi satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya.
Sedangkan pada cara yang kedua guru menentukan tema terlebih dahulu baru mencari keterhubungan antara tema dengan kompetensi dasar dengan indikator dari berbagai mata pelajaran.
Apabila guru menentukan tema terlebih dahulu, guru bisa memilih tema dari :
a.       Topik-topik dalam kurikulum
b.      Isu-isu
c.       Masalah-masalah
d.      Event-event khusus
e.       Minat siswa
f.       Literatur
Tema–tema dalam pembelajaran tematik, sebagaimana dijelaskan Subroto dan Herawati (1978) juga dapat dikembangkan berdasarkan kriteria berikut :
1.    Minat siswa yang pada umumnya dapat menarik untuk dijadikan kriteria penentuan tema, seperti hari libur. Kegiatan hari libur sangat menyenangkan bagi siswa. Banyak yang dapat dilakukan oleh siswa seperti bermain bola, ke sawah dan sebagainya.
2.    Minat guru yang berhubungan dengan sekolah, siswa atau proses atau proses pembelajaran yang disesuaikan dengan pemahaman siswa. Misalnya, guru dapat memilih tema koperasi sekolah. Guru  dapat mengembangkan pernyataan-pertanyaan seperti apa yang dijual di koperasi sekolah? Apa keuntungan koperasi sekolah?
3.    Kebutuhan siswa, seperti perkelahian antar siswa yang perlu pemecahan dan jalan keluar. Siswa dapat dilibatkan dalam mengambil pemecahan perkelahian antara siswa. Oleh karena itu, perkelahian dapat dijadikan sebagai tema.
Selain kriteria tersebut, menurut Subroto dan Herawati (1978) terdapat beberapa persyarat yang harus dipenuhi dalam penentuan tema, yaitu :
1.    Penentuan tema merupakan hasil ramuan dari berbagai disiplin ilmu.
2.    Tema diangkat sebagai sarana untuk mencapai sasaran materi pelajaran dan prosedur penyampaian.
3.    Tema sesuai dengan karakteristik belajar siswa sehingga perkembangan anak dapat dimanfaatkan secara maksimal.
4.    Tema harus bersifat cukup problematik sehingga kemungkinan luas untuk melaksanakan kegiatan belajar yang lebih efektif dibanding dengan proses belajar mengajar yang konvensional.
Penentuan tema dapat ditempuh dengan prosedur yang dikemukakan oleh Subroto dan  Herawati (1978) sebagai berikut :
1.    Menumbuhkan minat siswa pada suatu tema
2.    Mempertimbangkan sumber-sumber yang diperlukan. Bila perlu guru mempersiapkan rencana antisipasi, misalnya karya wisata.
3.    Mengidentifikasi apa yang telah diketahui oleh siswa dan apa saja yang ingin diketahui.
4.    Menentukan fokus pada tema tertentu, pemahaman, nilai-nilai, pengetahuan, atau sikap.
5.    Menentukan cara-cara untuk melakukan eksplorasi pertanyaan-pertanyaan dan mempertimbangkan ketrampilan-ketrampilan yang harus dimiliki siswa.
6.    Mengumpulkan sumber-sumber belajar.
7.    Mengacu pada pertanyaan-pertanyaan fokus.
8.    Penilaian yang dilakukan berulang-ulang dan mengkaji hasilnya pada kegiatan akhir.
Ada tiga model penentuan tema, yaitu :
a.    Tema di tentukan oleh guru dan dikembangkan dalam sub-sub tema
b.    Tema ditentukan bersama-sama antara guru dan siswa
c.    Tema ditentukan oleh siswa.

C.  Prinsip Pengembangan dan Pemilihan Tema
Menurut Tim Pusat Kurikulum dari Departemen Pendidikan Nasional dalam menetapkan tema perlu memperhatikan beberapa prinsip, yaitu :
a.    Memperhatikan lingkungan yang terdekat dengan siswa. Tema yang dipilih sebaiknya tema-tema yang ada dalam kehidupan sehari-hari dan dialami anak (Sukandi dkk, 2003:109). Mengangkat realita sehari-hari dapat dapat menarik minat siwa dan meningkatkan keterlibatan siswa dalam pembelajaran. Dalam pembelajaran tematik, anak belajar tentang dunia nyata sehingga pencapaian kompetensi dikaitkan dengan konteks kehidupan sehari-hari. Kebermaknaan pembelajaran sangat penting karena dapat memberikan pencerahan (insight) pada anak, juga membuat anak termotivasi dalam belajar sehingga mereka memiliki minat tinggi dalam pembelajaran (Samani, 2007:146).
b.    Dari yang termudah menuju yang sulit. Dari yang sederhana menuju yang kompleks. Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi (Tim Pusat Kurikulum Balitbang Departemen Pendidikan Nasional, 2006).
c.    Dari yang konkret menuju yang abstrak. Anak tidak belajar hal yang abstrak, tetapi belajar dari fenomena kehidupan dan secara bertahap belajar memecahkan problem kehidupan. Menurut Sukandi (2003), dunia anak adalah dunia nyata. Tingkat perkembangan mental anak selalu dimulai dengan tahap berfikir nyata. Anak-anak biasanya melihat peristiwa atau obyek yang didalamnya memuat sejumlah konsep/materi beberapa mata pelajaran. Misalnya, dalam berbelanja di pasar, anak-anak dihadapkan pada hitung-menghitung (Matematika), aneka ragam makanan sehat (IPA), dialog tawar menawar (Bahasa Indonesia), penggunaan uang (IPS), tata cara dan etika jual beli (Agama), dan mata pelajaran lainnya. Anak belajar beranjak dari hal-hal yang konkret yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba dan diotak-atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang dialami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan.
d.   Tema yang dipilih harus memungkinkan terjadinya proses berpikir pada diri siswa dan membangun pemahaman konsep karena adanya sinergi pemahaman antar konsep yang dikemas dalam tema.
e.    Ruang lingkup tema disesuaikan dengan usia dan perkembangan siswa, termasuk minat dan kebutuhan. Dalam pembelajaran tematik, berbagai mata pelajaran dihubungkan dengan tema yang cocok dengan kehidupan sehari-hari anak, bahkan diupayakan yang merupakan kesenangan anak pada umumnya sehingga siswa tertarik untuk mengikuti pelajaran. Ketertarikan siswa pada apa yang dipelajari merupakan pintu pertama belajar dan menjadi kunci keberhasilan belajar. Sebaliknya, jika siswa tidak tertarik belajar bisa menjadi faktor kegagalan dalam belajar bagi siswa (Sumani, 2007:144)
f.     Tema yang dipilih, menurut Sukandi (2003) dapat mengembangkan tiga ranah sasaran pendidikan secara bersamaan, yaitu kognitif (seperti gagasan konseptual tentang lingkungan dan alam sekitar) ketrampilan (seperti memanfaatkan informasi, menggunakan alat, dan mengamati gejala alam), dan sikap (jujur, teliti, tekun, menghargai perbedaan dan sebagainya).
D.  Prosedur Pemetaan Tema
Pemetaan tema dilakukan untuk memperoleh gambaran secara menyeluruh dan utuh semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator dari berbagai mata pelajaran yang dipadukan dalam tema yang dipilih. Kegiatan ini, menurut Tim Puskur Departemen Pendidikan Nasional, dapat dilakukan dengan :
a.    Penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar ke dalam indikator. Melakukan kegiatan penjabaran standar kompetensi dan kompetensi dasar dari setiap mata pelajaran ke dalam indikator. Dalam mengembangkan indikator perlu memperhatikan hal-hal sebagai berikut :
1)   Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik peserta didik.
2)   Indikator dikembangkan sesuai dengan karakteristik mata pelaaran.
3)   Dirumuskan dalam kata kerja operasionalnya yang terukur dan/atau dapat diamati.
b.    Menentukan Tema
Dalam menentukan tema dapat dilakukan dengan dua cara yakni :
1)   Cara pertama : mempelajari standar kompetensi dan kompetensi dasar yang terdapat dalam masing-masing mata pelajaran, dilanjutkan dengan menentukan tema yang sesuai.
2)   Cara kedua : menetapkan terlebih dahulu tema-tema pengikat keterpaduan, untuk menentukan tema tersebut, guru dapat bekerja sama dengan peserta didik sehingga sesuai dengan minat dan kebutuhan anak.
c.    Identifikasi dan analisis standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator.
Identifikasi dan analisa untuk setiap standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator disesuaikan dengan setiap tema sehingga semua standar kompetensi, kompetensi dasar dan indikator terbagi habis.

E.  Kegiatan Pemetaan Keterhubungan KD dan Indikator Ke Dalam Tema
Pemetaan KD dan indikator ke dalam tema dimulai dengan kegiatan sebagai berikut :
a.    Memetakan semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas 1-3. Karena pembelajaran tematik adalah keterpaduan berbagai mata pelajaran yang diikat dengan tema, dalam pemetaan tema harus dimulai dengan pemetaan tema mata pelajaran yang diajarkan di kelas 1-3.
b.    Mengidentifikasi standar kompetensi dalam setiap mata pelajaran yang diajarkan di kelas 1-3.
c.    Mengidentifikasi kompetensi dasar setiap mata pelajaran yang diajarkan di kelas 1-3.
d.   Menjabarkan kompetensi dasar ke dalam indikator. Penjabaran kompetensi dasar ke dalam indikator dapat menggunakan format berikut :

                   Tabel Penjabaran SK dan KD ke dalam Indikator
   Mata Pelajaran
 Standar Kompetensi
  Kompetensi Dasar
         Indikator






































e.    Menjabarkan kompetensi dasar ke dalam indikator
f.     Mengidentifikasi tema-tema berdasarkan keterpaduan standar kompetensi, kompetensi, kompetensi dasar, dan indikator dari semua mata pelajaran yang diajarkan di kelas 1-3. Melakukan identifikasi dan analisis untuk setiap SK, KD dan indikator harus cocok untuk setiap tema, sehingga semua SK, KD dan indikator terbagi habis, akan tetapi jika terdapat kompetensi yang tidak tercukup pada tema tertentu tetap diajarkan melalui tema lain ataupun disajikan secara tersendiri. Artinya untuk SK, 18 KD dan indikator yang tidak dapat dipadukan dengan mata pelajaran lain disajikan secara tersendiri.

        Tabel pemetaan keterhubungan KD dan Indikator ke dalam Tema

   Mata Pelajaran

    Standar    Kompetensi

 Kompetensi     Dasar

   Indikator
                        Tema
Diri Sendiri
Hari Libur
Maulid Nabi
Trans-
portasi

Dst


























Berikut ini adalah contoh pemetaan keterhubungan SK, KD dan indikator ke dalam tema :





MAKALAH LANDASAN KURIKULUM TEMATIK

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Peserta didik yang masih berada pada sekolah dasar atau madrasah ibtidaiyah yakni khususnya pada kelas bawah, kelas 1, 2 dan 3 adalah berada pada rentangan usia dini. Di mana pada usia tersebut seluruh aspek perkembangan kecerdasannya seperti IQ, EQ, dan SQ tumbuh dan berkembang sangat luar biasa. Umumnya tingkat perkembangan masih memendang bahwa segala sesuatu itu sebagai keutuhan ( holistik ) serta mampu memahami hubungan antara konsep secara sederhana . proses pembelajarannya masih bergantung pada objek-objek konkrit dan pengalaman yang dialami peserta didik secara langsung.
Sampai saat ini, pelaksanaan kegiatan pembelajaran di MI untuk setiap mata pelajaran dilakukan secara terpisah. Misalnya, Agama Islam 2 jam pelajaran, BHS Indonesia 2 jam pelajaran, IPS 2 jam pelajaran begitu pula dengan pelajaran yang lainnya. Dalam penyampaian materinya pun masih monoton tanpa dikaitkan dengan materi pelajaran yang lain. Padahal pada usia tersebut pemikiran peserta didik masih bersifat holistik, sehingga pembelajaran terpisah malah menyulitkan mereka. Hal tersebut banyak menyebabkan tingginya angka peserta didik mengulang kelas bahkan putus sekolah. Kondisi yang memprihatinkan tersebut juga disebabkan oleh kurangnya pendidikan prasekolah atau Taman Kanak-kanak di daerah terpencil. Padahal pendidikan prasekolah sangat membantu kesiapan peserta didik untuk melanjutkan proses pendidikan ke jenjang berikutnya yakni SD/MI.  
Atas dasar pertimbangan tersebut dan dalam rangka implementasi standar isi atau (SI) yang termuat dalam Standar Nasional Pendidikan, pelaksanaan pembelajaran pada kelas bawah yakni kelas 1, 2, dan 3 MI akan lebih tepat jika dikelola dengan pembelajaran terpadu melalui pendekatan pembelajaran tematik untuk semua mata pelajaran.[1]

B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Pembelajaran Tematik?
2.      Bagaimana pengertian  Landasan Pembelajaran tematik
3.      Bagaimana Kurikulum Pembelajaran tematik itu?

C.     Tujuan Masalah
1.      Untuk mengetahui Pengertian Pembelajran Tematik
2.      Untuk mengetahui Bagaimana pengertian pembelajaran tematik
3.      Untuk Mengetahui bagaimana kurikulum  pembelajaran  tematik itu?

D.    Batasan Masalah
Kami membatasi makalah ini mengenai seputar pemahaman Pembelajaran tematik, serta landasan dan kurikulum tematik.


















A.    Pengertian Pembelajran Tematik
Pemebelajran tematik dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema/topic pembahasan. Pembelajaran tematik merupakan salah satu model pembelajaran terpadu (integrated instruction) yang merupakan suatu system pembelajaran yang memungkinkan siswa, baik secara individual maupun kelompok, aktif mengenali dan merumuskan konsep serta perinsip- prinsip keilmuan secara holistic, bermakna dan autentik. Pembelajaran tematik berorientasi pada praktik pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan siswa.
Dari pernyataan tersebut dapat ditegaskan bahwa pembelajaran tematik dilakukan dengan maksud sebagai upaya untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas pendidikan, terutama untuk mengimbangi padatnya kurikulum. Disamping itu, pembelajaran tematik akan memberi peluang pembelajaran terpadu ynag lebih menekankan pada partisipasi/keterlibatan siswa dalam belajar.
B.      Landasan Pembelajaran Tematik
1.       Landasan Filosofis Pembelajaran Tematik
Setiap pelaksanaan pembelajaran di Sekolah Dasar, seorang guru harus mempertimbangkan banyak faktor. Secara filosofis, kemunculan pembelajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat, yaitu: (1) Progresivisme, (2) Konstruktifisme, dan (3) Humanisme.
1.      Aliran progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah dan memperhatikan pengalaman siswa-siswi.
2.      Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung siswa-siswi sebagai kunci dalam pembelajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuan melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman, dan lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat ditransfer begitu saja dari seorang guru kepada siswa, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing siswa, pengetahuan bukanlah sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus menerus. Keaktifan siswa yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan dalam perkembangan pengetahuannya.
3.      Aliran humanisme melihat siswa dari segi:
a.       keunikan/kekhasannya
b.       potensinya
c.       motivasi yang dimilikinya.
Siswa selain memiliki kesamaan juga memiliki kekhasan. Implikasi dari hal tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu:
a.       layanan pembelajaran selain bersifat klasikal, juga bersifat individual,
b.      pengakuan adanya siswa yang lambat (slow learner) dan siswa yang cepat,
c.       penyikapan yang unik terhadap siswa baik yang menyangkut faktor personal/individual maupun yang menyangkut faktor lingkungan sosial/kemasyarakatan.
Berdasarkan landasan filosofi yang telah dijelaskan di atas kita dapat pahami bahwa secara fitrah siswa memiliki bekal atau potensi yang sama dalam upaya memahami sesuatu. Sehingga Implikasi wawasan tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu:
a)      Guru bukan merupakan satu-satunya sumber informasi
b)        Siswa disikapi sebagai subjek belajar yang secara kreatif mampu    menemukan pemahamannya sendiri
c)       Dalam proses pembelajaran, guru lebih banyak bertindak sebagai model, teman pendamping, pemberi motivasi, penyedia bahan pembelajaran, dan aktor yang juga bertindak sebagai siswa (pembelajar).
Sedangkan dilihat dari motivasi dan minat, siswa memiliki ciri tersendiri. Implikasi dari pandangan tersebut dalam kegiatan pembelajaran yaitu:
a.       Isi pembelajaran harus memiliki manfaat bagi siswa secara actual
b.      Dalam kegiatan belajarnya siswa harus menyadari penguasaan isi pembelajaran itu bagi kehidupannya
c.       Isi pembelajaran perlu disesuaikan dengan tingkat perkembangan, pengalaman, dan pengetahuan siswa.
2. Landasan Psikologis Pembelajaran Tematik
Selain landasan filosofis di atas, pembelajaran tematik juga dilandasi oleh beberapa pandangan psikologis. Hal ini disebabkan bahwa poses pembelajaran itu sendiri berkaitan dengan perilaku manusia, dalam hal ini yaitu siswa. Pandangan-pandangan psikologis yang melandasai pembelajaran tematik dapat diuraikan sebagai berikut.
a.       Pada dasarnya masing-masing siswa membangun realitasnya sendiri. Dengan kata lain, pengalaman langsung siswa adalah kunci dari pembelajaran yang berarti bukan pengalaman orang lain (guru) yang ditransfer melalui berbagai bentuk media.
b.       Pikiran seseorang pada dasarnya mempunyai kemampuan untuk mencari pola dan hubungan antara gagasan-gagasan yang ada. Pembelajaran tematik memungkinkan siswa untuk menemukan pola dan hubungan tersebut dari berbagai disiplin ilmu.
c.         Pada dasarnya siswa adalah seorang individu dengan berbagai kemampuan yang dimilikinya dan mempunyai kesempatan untuk berkembang. Dengan demikian, peran guru bukanlah satu-satunya pihak yang paling menentukan, tetapi lebih banyak bertindak sebagai “tut wuri handayani”.
d.        Keseluruhan perkembangan anak adalah terpadu dan anak melihat dirinya dan sekitarnya secara utuh.
e.       Landasan praktis juga diperlukan dalam pengembangan pembelajaran tematik, karena pada dasarnya guru harus melaksanakan pembelajaran tematik secara aplikatif di dalam kelas.
Landasan psokologis bagi pembelajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan siswa-siswi dan psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama dalam menentukan isi materi pembelajaran tematik yang diberikan agar tingkat keluasan dan kedalamannya sesuai dengan tahap pekembangan siwa-siswi. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada siswa-siswi dan bagaimanaa pula mereka harus mempelajarinya.[3] Melalui pembelajaran tematik diharapkan adanya perubahan perilaku siswa menuju kedewasaan, baik fisik, mental/intelektual, moral maupun sosial. 

C.    Kurikulum Pembelajaran Tematik
1.      Pengorganisasian kurikulum
Pengorganisasian kurikulum pembelajaran tematik merupakan panduan dua kurikulum atu lebih sedemikian hingga menjadi satu kesatuan yang utuh, pada kegiatan pembelajaran diharapkan dapat menggairahkan proses pembelajaran serta pembelajaran semakin lebih bermakna karena senantiasa mengkaitkan dengan kegiatan praktis sehari-hari sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai. Masing-masing siswa- siswi membangun sendiri emahaman terdapat konsep atau pengetahuan yang baru. Model kurikulum pembelajaran terpadu yang termasuk dalam pembelajaran tematik meliputi pengorganisasian dan klasifikasinya ( Trianto; 2007 ) Di sini akan dibahas tentang pengorganisasian kurikulum pembelajaran tematik. Menurut Nasution S, ada tiga tipe kurikulum pembelajaran, yaitu sebagai berikut :
1. Separated Subject Curriculum, yakni kurikulum yang segala bahan mata pelajarannya disajikan secara terpisah-pisah sehingga banyak mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya.
2. Correlated Curriculum, ialah bentuk kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara matapelajaran yang satu dengan yang lain.
Prinsip-prinsip berhubungan mata pelajaran korelasi ini dapat dilaksanakan dengan cara :
·         Antar dua mata pelajaran diadakan hubungan secara insidental. ·         Memperbincangkan suatu pokok masalah tertentu dalam berbagai mata pelajaran.
·         Menghilangkan batas-batas antar mata pelajaran atau biasa disebut dengan Broad Field.
3. Integrated Curriculum, yang dimaksud dengan integrasi adalah perpaduan, koordinasi dan keseluruhan. Mata pelajaran yang disajikan disesuaikan dengan kehidupan peserta didik sehari-hari.
2.    Klasifikasi Pengintegrasian Tema
a.  Pengintegrasian Beberapa Disiplin Ilmu
Model ini merupakan model pembelajaran terpadu yang menautkan dua atau lebih bidang ilmu yang serumpun. Misalnya di bidang ilmu alam, menautkan antara dua tema dalam fiska dan biologi yang memiliki relevansi atau antara tema kimia dan fisika. Misalnya tema metabolisme dapat di tinjau dari biologi maupun kimia. Begitulah dengan tema-tema yang relevan pada bidang ilmu sosial seperti antara sosiologi dan geografi.
b.  Pengintegrasian Beberapa Disiplin Ilmu
Model ini merupakan model pembelajaran terpadu yang menautkan antar disiplin ilmu yang berbeda. Misalnya antara tema yang ada dalam bidang ilmu sosial dengan bidag ilmu alam. Sebagai contoh, tema energi merupakan tema yang dapat di kaji dari bidang ilmu yang berbeda baik dalam bidang ilmu sosial (kebutuhan energi dalam masyarakat) maupun dalam bidang ilmu alam bentuk-bentuk energi dan teknologinya. Jadi dengan demikian jelas bahwa dalam model ini suatu tema tersebut dapat di kaji dari dua sisi bidang ilmu yag berbeda (antar disilpin ilmu).
c.  Pengintegrasian di dalam Satu dan Beberapa Disiplin Ilmu
Model ini merupakan model pembelajaran terpadu yang paling kompleks karena menautkan anatara disiplin ilmu sekaligus bidang ilmu yang berbeda. Misalnya antara tema yang ada dalam bidang ilmu sosial, bidang ilmu alam, teknologi maupum ilmu agama. Sebagai contoh, tema rokok merupakkan tema yang dapat di kaji dari berbagai bidang imu yag berbeda. Di bidang ilmu sosial dapat di kaji dampak sosial merokok dalam masyarakat, (sosiologi), aspek pembiayaan ekinomi bagi perokok (ekonomi), dalam bidang ilmu alam, dapat di kaji bahaya rokok bagi kesehatan (biologi), kandungan kimiawi rokok (kimia), unsur radio aktif (radon) dalam daun tembakau (fisika). Sedangkan di bidang ilmu agama dapat di kaji bahwa rokok merupakan perbuatan yang sia-sia (makruh hukumnya). Jadi dengan demkian nampak jelas bahwa dalam model ini suatu tema tersebut dapat di kaji dari dua sisi, yaitu dalam satu bidang ilmu (interdisipiln) maupun dari bidang ilmu yang berbeda (antar disiplin ilmu). Dengan demikian semakin jelaslah kebemaknaan pembelajaran itu, karena pada dasarnya tak satupun permasalahan (konsep) yang dapat di tinjau hanya dari satu sisi saja. 

A.    Kesimpulan
1.      Pemebelajran tematik dapat diartikan sebagai suatu kegiatan pembelajaran dengan mengintegrasikan materi beberapa mata pelajaran dalam satu tema/topic pembahasan.
2.      Landasan Pembelajaran Tematik
a.       Landasan Filosofis Pembelajaran Tematik aliran filsafat, yaitu
a)      Progresivisme memandang proses pembelajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas
b)      Konstruktifisme melihat pengalaman langsung siswa-siswi sebagai kunci dalam pembelajaran
c)      Humanisme Aliran humanisme melihat siswa dari segi:
1)      Keunikan/kekhasannya
2)      Potensinya
3)      Motivasi yang dimilikinya.
b.      Landasan Psikologis Pembelajaran Tematik
Bahwa poses pembelajaran itu sendiri berkaitan dengan perilaku manusia, dalam hal ini yaitu siswa. Pandangan-pandangan psikologis yang melandasai pembelajaran tematik.
3.      Pengorganisasian kurikulum
a.       Separated Subject Curriculum, yakni kurikulum yang segala bahan mata pelajarannya disajikan secara terpisah-pisah sehingga banyak mata pelajaran menjadi sempit ruang lingkupnya.
b.      Correlated Curriculum, ialah bentuk kurikulum yang menunjukkan adanya suatu hubungan antara matapelajaran yang satu dengan yang lain.
c.       Integrated Curriculum, yang dimaksud dengan integrasi adalah perpaduan, koordinasi dan keseluruhan.


B.     Saran
Penerapan pembelajaran tematik hendaknya terus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan rambu-rambu yang benar agar siswa termotivasi dan senang dalam belajar.
Penerapan pembelajaran tematik hendaknya terus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan rambu-rambu yang benar agar menumbuhkan sikap positif dan selalu aktif dalam pemecahan masalah pada siswa.
Penerapan pembelajaran tematik hendaknya terus dikembangkan dengan memperhatikan karakteristik dan rambu-rambu yang benar agar menambah wawasan guru dan memperbaiki kinerja guru dalam pembelajaran Pembelajaran tematik merupakan model pembelajaran yang sudah ada dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan di sekolah dasar sehingga harus dilaksanakan Perlunya kerja sama dan saling peduli dari warga sekolah dalam rangka meningkatkanmutu pendidikan di sekolah dengan menerapkan pembelajaran yang lebih aktif, nofatif, kretif, dan tepat sasaran.